Laman

Selasa, 29 Januari 2013

Apakah AIDS Dibuat Oleh Manusia / Ilmuan ?

Share on :
Setelah lama posting tentang software mulu mending sekarang sedikit refresh dengan artikel yang bikin penasaran ini

Tulisan Allan Cantwell, Jr. M.D. ini mengungkapkan rahasia asal-usul AIDS dan HIV, juga bagaimana ilmuwan menghasilkan penyakit yang paling menakutkan kemudian menutup-nutupinya.

Teori” Monyet Hijau

1.Tidak sedikit orang yang sudah mendengar teori bahwa AIDS adalah ciptaan manusia. Menurut The New York Times yang terbit 29 Oktober 1990, tiga puluh persen penduduk kulit hitam di New York City benar-benar percaya bahwa AIDS adalah “senjata etnis” yang didesain di dalam laboratorium untuk menginfeksi dan membunuh kalangan kulit hitam. Sebagian orang bahkan menganggap teori konspirasi AIDS lebih bisa dipercaya dibandingkan teori monyet hijau Afrika yang dilontarkan para pakar AIDS. Sebenarnya sejak tahun 1988 para peneliti telah membuktikan bahwa teori monyet hijau tidaklah benar. Namun kebanyakan edukator AIDS terus menyampaikan teori ini kepada publik hingga sekarang. Dalam liputan-liputan media tahun 1999, teori monyet hijau telah digantikan dengan teori simpanse di luar Afrika. Simpanse yang dikatakan merupakan asal-usul penyakit AIDS ini telah diterima sepenuhnya oleh komunitas ilmiah.

2. “Pohon keturunan”


filogenetik virus primata (yang hanya dipahami segelintir orang saja) ditampilkan untuk membuktikan bahwa HIV diturunkan dari virus primata yang berdiam di semak Afrika. Analisis data genetika virus ditunjukkan melalui “supercomputer” di Los Alamos, Mexico, menunjukkan bahwa HIV telah “melompati spesies’, dari simpanse ke manusia sekitar tahun 1930 di Afrika.

Eksperimen Hepatitis B Pra-AIDS kepada Pria Gay (1978-1981)

Ribuan pria gay mendaftar sebagai manusia percobaan untuk eksperimen vaksin hepatitis B yang “disponsori pemerintah AS” di New York, Los Angeles, dan San Fransisco. Setelah beberapa tahun, kota-kota tersebut menjadi pusat sindrom defisiensi kekebalan terkait gay, yang belakangan dikenal dengan AIDS. Di awal 1970-an, vaksin hepatitis B dikembangkan di dalam tubuh simpanse. Sekarang hewan ini dipercaya sebagai asal-usul berevolusinya HIV. Banyak orang masih merasa takut mendapat vaksin hepatitis B lantaran asalnya yang terkait dengan pria gay dan AIDS. Para dokter senior masih bisa ingat bahwa eksperimen vaksin hepatitis awalnya dibuat dari kumpulan serum darah para homoseksual yang terinfeksi hepatitis.

Kemungkinan besar HIV “masuk” ke dalam tubuh pria gay selama uji coba vaksin ini. Ketika itu, ribuan homoseksual diinjeksi di New York pada awal 1978 dan di kota-kota pesisir barat sekitar tahun 1980-1981.

Apakah jenis virus yang terkontaminasi dalam program vaksin ini yang menyebabkan AIDS? Bagaimana dengan program WHO di Afrika? Bukti kuat menunjukkan bahwa AIDS berkembang tak lama setelah program vaksin ini. AIDS merebak pertama kali di kalangan gay New York City pada tahun 1979, beberapa bulan setelah eksperimen dimulai di Manhattan. Ada fakta yang cukup mengejutkan dan secara statistik sangat signifikan, bahwa 20% pria gay yang menjadi sukarelawan eksperimen hepatitis B di New York diketahui mengidap HIV positif pada tahun 1980 (setahun sebelum AIDS menjadi penyakit “resmi’). Ini menunjukkan bahwa pria Manhattan memiliki kejadian HIV tertinggi dibandingkan tempat lainnya di dunia, termasuk Afrika, yang dianggap sebagai tempat kelahiran HIV dan AIDS. Fakta lain yang juga menghebohkan adalah bahwa kasus AIDS di Afrika yang dapat dibuktikan baru muncul setelah tahun 1982. Sejumlah peneliti yakin bahwa eksperimen vaksin inilah yang berfungsi sebagai saluran tempat “berjangkitnya” HIV ke populasi gay di Amerika. Namun hingga sekarang para ilmuwan AIDS mengecilkan koneksi apapun antara AIDS dengan vaksin tersebut.

Umum diketahui bahwa di Afrika, AIDS berjangkit pada orang heteroseksual, sementara di Amerika Serikat AIDS hanya berjangkit pada kalangan pria gay. Meskipun pada awalnya diberitahukan kepada publik bahwa “tak seorang pun kebal AIDS”, faktanya hingga sekarang ini (20 tahun setelah kasus pertama AIDS), 80% kasus AIDS baru di Amerika Serikat berjangkit pada pria gay, pecandu narkotika, dan pasangan seksual mereka. Mengapa demikian? Tentunya HIV tidak mendiskriminasi preferensi seksual atau ras tertentu. Apakah benar demikian?

Keserupaan dengan FLU Burung

Di pertengahan tahun 1990-an, para ahli biologi berhasil mengidentifikasi setidaknya 8 subtipe (strain) HIV yang menginfeksi berbagai orang di seluruh dunia. Telah terbukti, strain B adalah strain pra dominan yang menginfeksi gay di AS. Strain HIV ini lebih cenderung menginfeksi jaringan rektum, itu sebabnya para gay yang cenderung menderita AIDS dibandingkan non-gay

Sebaliknya, Strain HIV yang umum dijumpai di Afrika cenderung menginfeksi vagina dan sel serviks (leher rahim), sebagaimana kulup penis pria. Itu sebabnya, di Afrika, HIV cenderung berjangkit pada kalangan heteroseksual.

Para pakar AIDS telah memeberitahukan bahawa AIDS Amerika berasal dari Afrika, padahal Strain HIV yang umum dijumpai di kalangan pria gay nyaris tak pernah terlihat di Afrika! Bagaimana bisa demikian? Apakah sebagian Strain HIV direkayasa agar mudah beradaptasi ke sel yang cenderung menginfeksi kelamin gay?

Telah diketahui, pria ilmuwan SCVP (Special Virus Cancer Program) mampu mengadaptasi retrovirus tertentu agar menginfeksi jenis sel tertentu. Tak kurang sejak tahun 1970, para ilmuwan perang biologis telah belajar mendesain agen-agen (khususnya virus) tertentu yang bisa menginfeksi dan menyerang sel kelompok rasial “tertentu”. Setidaknya tahun 1997, Stephen O’Brien dan Michael Dean dari Laboratorium Keanekaragaman Genom di National Cancer Institute menunjukkan bahwa satu dari sepuluh orang kulit putih memiliki gen resisten-AIDS, sementara orang kulit hitam Afrika tidak memiliki gen semacam itu sama sekali. Kelihatannya, AIDS semakin merupakan “virus buatan manusia yang menyerang ras tertentu” dibandingkan peristiwa alamiah.

Berkat bantuan media Amerika, virus ini menyebar ke jutaan orang tertentu di seluruh dunia sebelum segelintir orang mulai waspada akan kejahatan di balik penciptaan virus ini. Di tahun 1981, pejabat kesehatan memastikan “masyarakat umum” bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. “AIDS adalah penyakit gay” adalah jargon yang sering dikumandangkan media.

Setidaknya tahun 1987, Robert Gallo memberitahu reporter Playboy, David Black, “Saya pribadi belum pernah menemukan satu kasus pun (di Amerika) dimana pria terkena virus (AIDS) dari seorang wanita melalui hubungan intim heteroseksual .” Gallo melanjutkan, “AIDS tak akan menjadi bahaya yang tak bisa teratasi bagi masyarakat umum.” Apakah ini sekedar spekulasi ataukah Gallo mengetahui sesuatu yang tidak ia ceritakan?
 

Seorang ilmuwan mengutarakan teori untuk menghasilkan zombie.
Zombie pada dasarnya adalah manusia tanpa jiwa. Menurut kepercayaan ilmu hitam Afrika Barat dan Haiti, tubuh zombie tak ubahnya boneka yang dikendalikan para penyihir. Sementara dalam film Night of The Living Dead (1968), zombie digambarkan sebagai mayat hidup pemakan bangkai manusia yang berjalan dengan terseok-seok, dan tampak dungu .

Steven C. Schlozman punya penjelasan ilmiah untuk membuat zombie. Asisten profesor psikiatri di Harvard University yang juga menulis buku Zombie Autopsies, sebuah seri fiksi tentang wabah zombie–masih dalam batas teori.

“Perlu suatu hal efektif yang membidik dan mematikan bagian tertentu dari otak,” kata Schlozman ketika menjelaskan teorinya kepada PopSci. Setelah itu, manusia akan menjadi mayat hidup yang lobus frontalnya, bagian otak yang berfungsi menangani moralitas, perencanaan, menghambat tindakan impulsif, seperti tidak ada. Sedangkan otak kecil, bagian otak yang berfungsi mengontrol koordinasi, masih ada namun tidak sepenuhnya berfungsi.

Hal yang bisa merusak otak itu, menurut Schlozman, adalah prion, sebuah partikel protein yang bisa menularkan penyakit. Namun prion bukanlah virus, bahkan bukan makhluk hidup sehingga prion tidak mungkin dihancurkan dan tak ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit yang disebabkannya.

Prion mulai dikenal luas pada tahun 1990-an sebagai agen yang menyebabkan penyakit sapi gila. Jika prion masuk ke dalam tubuh manusia, seperti halnya pada kasus sapi gila, otak kita akan berlubang seperti spons. Dan apabila otak yang terinfeksi prion itu dipindai maka akan tampak seperti otak yang ditembak dengan senapan berburu.

Untuk menciptakan zombie, cara yang mungkin dilakukan adalah dengan menyematkan prion pada virus agar dapat tersebar luas. Virus yang dibutuhkan adalah yang memiliki kemampuan untuk menyebar dengan cepat di dalam tubuh manusia dan membawa prion ke lobus frontal dan otak kecil. Merancang serangan ke bagian tersebut memang sulit namun tetap penting untuk membuat mayat hidup seperti yang diinginkan.

Namun teori Schlozman itu itu diragukan Jay Fishman, direktur transplantasi penyakit menular di Massachusetts General Hospital, Boston. Menurutnya skenario penyematan prion pada virus itu sulit dilakukan serta memiliki kemungkinan yang kecil untuk berhasil. Karena setelah infeksi terjadi kita harus bisa menghentikan pengambilalihan kontrol otak oleh prion sebelum zombie berada dalam kondisi koma yang menjadikan otaknya sama sekali tidak berguna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ayo Tinggalkan Sebuah Komentar, Dan Share Jika Anda Menyukai Artikel Ini

Peraturan Berkomentar :
1. Tidak Boleh Kasar,Kotor DLL
2. Menghina Orang Lain
3. Dilarang Promosi Blog, Iklan DLL
4. Komentar Harus Berhubungan dengan ARTIKEL

Dan Saya Mohon TOLONG LAPORKAN JIKA LINK BERMASALAH AGAR BLOG INI SEMAKIN MAJU !

Gunakan Annonymous Jika Tidak Memiliki Akun Google Atau Lainnya.

Terima Kasih.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...